| Dakwah Islam Melalui Pacaran |
| Written by abdullah |
|
Dakwah Islam adalah salah satu bentuk media jihad yang terdapat di dalam agama Islam. Mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, menyebarkan ilmu pengetahuan, menasehati sesama adalah beberapa aktivitas yang biasanya terdapat di dalam dakwah Islam. Dakwah Islam adalah salah satu bentuk kewajiban yang harus dipenuhi oleh setiap muslim, sebagaimana firman Allah swt berikut: “Serulah (manusia) ke jalan Rabb-mu dengan hikmah1 dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Rabb-mu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya, dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”. QS. An Nahl (16) : 125 “Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar1, merekalah orang-orang yang beruntung”. QS. Ali Imron (3) : 104 “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, diantara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik”. QS. Ali Imron (3) : 110 Lalu bagaimana kaitan antara dakwah Islam dengan pacaran? Ada segolongan orang yang mengatakan bahwa pacaran itu dilarang menurut pandangan Islam. Namun ada pula golongan yang mengatakan bahwa pacaran boleh-boleh saja asal nggak kebangetan. Bahkan, ada pula seseorang yang mengaku sebagai aktivis dakwah yang akhirnya menggunakan pacaran sebagai media dakwah. Ia berpendapat bahwa dengan pacaran akan membuatnya lebih intensif dalam mendakwahi pasangannya. Benarkah demikian? Memang larangan mengenai pacaran di dalam Islam tidak dibahas secara eksplisit. Mungkin itulah salah satu faktor yang mengakibatkan kebanyakan orang awam tidak dapat menerima atas hukum pelarangan pacaran ini. Namun, dalam dunia dakwah islam, larangan pacaran adalah hal yang sudah sangat dimengerti, maka aneh sekali manakala ada seseorang yang mengaku sebagai aktivis dakwah islam, namun ia tetap melakukan pacaran. Meskipun tidak dijelaskan secara eksplisit, namun banyak sekali dalil yang dapat di jadikan sebagai rujukan untuk pelarangan pacaran tersebut. Telah sama-sama kita ketahui bahwa Islam adalah agama yang mengharamkan perbuatan zina, termasuk juga perbuatan yang MENDEKATI ZINA. "Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan sesuatu jalan yang buruk." (QS. Al-Isra [17] : 32). Lalu, apa saja perbuatan yang tergolong MENDEKATI ZINA itu? Diantaranya adalah: saling memandang, merajuk/manja, bersentuhan (berpegangan tangan, berpelukan, berciuman, dll), berdua-duaan, dll. Karena unsur-unsur ini dilarang dalam agama Islam, maka tentu saja hal-hal yang di dalamnya terdapat unsure tersebut adalah di larang. Hal ini sebagaimana telah disebutkan dalam hadits berikut: Dari Ibnu Abbas r.a. dikatakan: Tidak ada yang kuperhitungkan lebih menjelaskan tentang dosa-dosa kecil daripada hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Allah telah menentukan bagi anak Adam bagiannya dari zina yang pasti dia lakukan. Zinanya mata adalah melihat (dengan syahwat), zinanya lidah adalah mengucapkan (dengan syahwat), zinanya hati adalah mengharap dan menginginkan [pemenuhan nafsu syahwat], maka farji (kemaluan) yang membenarkan atau mendustakannya…” (HR Bukhari & Muslim) Dalil di atas kemudian juga diperkuat lagi oleh beberapa hadits dan ayat Al Quran berikut: “Janganlah seorang laki-laki berdua-duaan dengan wanita kecuali bersama mahramnya.” (Bukhori dan Muslim) "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah seorang laki-laki sendirian dengan seorang wanita yang tidak disertai mahramnya. Karena sesungguhnya yang ketiganya adalah syaitan." (HR. Ahmad). "Demi Allah, tangan Rasulullah shallallahu alaihi wassallam tidak pernah menyentuh tangan wanita sama sekali meskipun dalam keadaan membaiat. Beliau tidak membaiat mereka kecuali dengan mangatakan: "Saya baiat kalian." (HR. Bukhori) "Sesungguhnya saya tidak berjabat tangan dengan wanita." (HR Malik , Nasai, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad) Telah berkata Aisyah RA, "Demi Allah, sekali-kali dia (Rasul) tidak pernah menyentuh tangan wanita (bukan mahram) melainkan dia hanya membaiatnya (mengambil janji) dengan perkataaan." (HR. Bukhari dan Ibnu Majah). "Wahai Ali, janganlah engkau meneruskan pandangan haram (yang tidak sengaja) dengan pandangan yang lain. Karena pandangan yang pertama mubah untukmu. Namun yang kedua adalah haram" . (HR Abu Dawud , At-Tirmidzi dan dihasankan oleh Al-Albani) “Pandangan itu adalah panah beracun dari panah-panah iblis. Maka barangsiapa yang memalingkan pandangannya dari kecantikan seorang wanita, ikhlas karena Allah, maka Allah akan memberikan di hatinya kelezatan sampai pada hari? Kiamat.” (HR. Ahmad) Dari Jarir bin Abdullah r.a. dikatakan: “Aku bertanya kepada Rasulullah saw. tentang memandang (lawan-jenis) yang (membangkitkan syahwat) tanpa disengaja. Lalu beliau memerintahkan aku mengalihkan pandanganku.” (HR Muslim) “Janganlah kau terlalu lembut bicara supaya (lawan-jenis) yang lemah hatinya tidak bangkit nafsu (syahwat)-nya.” (QS al-Ahzab [33]: 32) Sekarang pertanyaannya, “Apakah di dalam pacaran terdapat unsur-unsur sebagaimana yang telah disebutkan pada dalil-dalil diatas?” Kalau memang ada, maka jelas bahwa pacaran itu DILARANG di dalam Islam, dengan alasan apapun. Jika dengan keterangan-keterangan yang sudah diuraikan secara jelas di atas ternyata masih ada saja yang mengatakan bahwa pacaran itu BOLEH, maka patut dipertanyakan, “Apa atau yang mana dalilnya?”. Jangan mengatas namakan dakwah islam untuk menghalalkan pacaran! Sebagai aktivis dakwah islam, tentunya kita tahu bahwa antara laki-laki dan perempuan (ikhwan dan akhwat) itu sudah ada seksi dakwah islamnya masing-masing (anggaplah SEKSI DAKWAH ISLAM=penulis). Maksudnya adalah, bagi akhwat/perempuan, di sana ada murobbiyah yang khusus menangani dakwah islam dikalangan akhwat, dan disana juga sudah disediakan murobbi yang menangani dakwah islam khusus dikalangan ihkwan secara intensif. Diluar itu, ikhwan punya rekan sesama ikhwan untuk sekedar bertanya atau konsultasi, begitu pula akhwat. Selain itu, untuk dakwah islam atau ta’lim lain yang lebih bersifat umum, yang dapat dihadiri oleh ikhwan dan akhwat pun sudah ada, seperti seminar, dll. Seminar, bedah buku, itu boleh dihadiri oleh ikhwan dan akhwat namun tetap menghindarkan adanya percampuran ataupun berdua-duaan. Maka serahkan saja urusan akhwat ini kepada akhwat juga atau kepada murobbiah-nya. Kalaupun ada kepentingan, sekedar menyampaikan saran atau masukan, sampaikan saja melalui rekan akhwatnya, bukannya kita yang harus turunlangsung. Atau silahkan saja sampaikan secara langsung dengan tidak melalui media pacaran dan menghindari unsur-unsur yang mengarah pada MENDEKATI ZINA, sebagaimana telah disampaikan di atas. Kalau berbicara masalah “ingin berdakwah islam lebih intensif”, banyak cara lain yang dapat kita lakukan. Kalau ingin mendakwah islami orang, ya pilih yang ikhwan juga dong, jangan yang akhwat. Kalau yang akhwat, sampaikan saja kepada rekan akhwat kita, bereskan? Lagipula, andaipun kita hendak melakukan dakwah Islam kepada seluruh perempuan yang ada di sekolah kita, di kampus kita, di kantor kita, atau di kampung kita…apakah lantas kita juga akan menjadikan mereka sebagai pacar kita semua??? Tidak masuk logikakan alasan semacam ini! Kalau lantas kita mengatakan bahwa segala sesuatu itu bergantung kepada niatnya (Pacaran yang niatnya untuk dakwah islam). Eittt…tunggu dulu! Niat itu nggak berhenti sampai di situ aja. Niat itu harus diluruskan, LURUSKAN NIAT! Maksudnya adalah, niat untuk melakukan kebaikan ya harus dilakukan dengan cara yang lurus atau benar (sesuai dengan syariat), bukan dengan cara yang buruk atau dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya. Kalau niat baik dilakukan dengan cara yang batil, itu namanya melenceng! Sama aja seperti ini, “apakah niat menyumbang ke Masjid itu diperbolehkan manakala uangnya diperoleh dari hasil merampok?”, ya jelas aja ga boleh. Itu namanya mencampur adukkan antara yang hak dengan yang batil, dan Allah swt telah melarang hal tersebut, sebagaimana firman Allah yang artinya: "Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang batil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu sedang kamu mengetahui." (QS al-Baqarah [2] : 42). Dari sini semakin jelas bahwa pacaran dilarang di dalam Islam. Dan tidak ada dakwah Islam yang dilakukan dengan metode pacaran, karena nanti jatuhnya bukan dakwah Islam lagi, melainkan MENDEKATI ZINA, dan Rasulullah saw pun tidak mencontohkan cara-cara yang demikian. Dakwah islam Islam adalah perkara suci yang ditujukan hanya untuk Allah swt. Maka jalankanlah dengan cara-cara suci yang diridhoi oleh Allah swt, bukan dengan jalan batil yang justru akan menodai nama dakwah Islam dan menimbulkan murka Allah swt. Wallahua’lam bishshowab Artikel ini juga dapat dibaca di www.lingkarcahaya.com |
Tetap update tulisan dari auliyaa husna di manapun dengan http://m.cybermq.com dari browser ponsel anda!




Selasa, 24 Februari 2009 06:20 WIB
Boleh aza sich pacaran, tapi....
ada waktu2nya tersendiri (ba'da walimatul ursy)...
Rabu, 04 Maret 2009 04:33 WIB
tapi jangan juga menghalalkan demokrasi untuk dakwah...
kan yang haram akan tetap haram sebagaimana haramnya pacaran...
Rabu, 04 Maret 2009 09:50 WIB
Kamis, 12 Maret 2009 01:52 WIB
Minggu, 05 April 2009 08:10 WIB
kalau masalah pacaran haram bagi saya karna pacaran itu banyak madorotnya dari pada manpaatnya.
"la takrobu zinnah di situ sudah ada larangan.
Sabtu, 25 April 2009 07:38 WIB
Sabtu, 25 April 2009 07:43 WIB
Jangan sesekali kau terbuai dengan bisikan syaitan,
Bentengi hatimu dengan taqwa sepenuh taqwa,
Teguhkan imanmu meniti hari-hari di pentas ujian ini,
& senantiasa memanjatkan doa,
Sehingga bersatu di bawah lembayung rahmat dan rido-Nya…
Senin, 15 Juni 2009 08:10 WIB
mari berdakwah..
tapi jgn dengan pacaran
karena pacaran @ dorongan hawanafsu
sedang dikatakan hawanafsu selalu cenderung kepada keburukan
Senin, 22 Juni 2009 04:12 WIB
sebenarnya tidak ada yang namanya pacaran dalam islam,
tapi...
apakah seseorang itu harus membohongi hati????....
Kamis, 02 Juli 2009 04:06 WIB
makanya buruan kerenkan diri terus nikah...biar bisa pacaran kan g dosa tuwh.....wuekekeh
Kamis, 02 Juli 2009 04:56 WIB
Kamis, 02 Juli 2009 09:18 WIB
sabda Rasulullah pandangan pertama mubah ke2 zinah. nah yg pacaran yang ga' cuma sekali mandangnya, jadi ya sdh bisa di sebut zinah. apalagi bila sdh cium2an.
Kamis, 02 Juli 2009 12:04 WIB
Setelah ada akad nikah alias ijab qabul aja ya pacarannya...^_^
Selasa, 07 Juli 2009 01:39 WIB
halahh... dakwah dari hongkong...!!!
Selasa, 07 Juli 2009 10:29 WIB
Kalau dakwah seperti, justru nerusak nama baik dan tatanan hukum Islam itu sendiri. Makanya, apa kata ukhty Yeni itu...
Kamis, 09 Juli 2009 06:47 WIB
Minggu, 02 Agustus 2009 12:38 WIB
Senin, 07 September 2009 08:13 WIB
Senin, 12 Oktober 2009 10:45 WIB
tp[ gmna q yang dah terlanjur... q pernah mndekati zina tp alhamdulilah zina besar gx terjadi
Sabtu, 17 Oktober 2009 07:17 WIB
Sepakat be..ge..te..
Maju terus pantang mundur para temen2 yang masih tetep peduli pada Islam.
Jadi...ayo menikah!!!
Jum'at, 13 November 2009 09:47 WIB
@Fawwaz: kl bisa baca kmbali artikel ini dgn baik,..
Kamis, 26 November 2009 09:27 WIB
mang iya mbak auliyaa, masa dakwah dijadikan sebagai media tuk bolehnya pacaran???
mang g' da pa murabbiyah dan murabbi yang pada dasrnya lebih afdhal
Jum'at, 11 Desember 2009 05:15 WIB
1.syiar agama, terutama bagi cewek atao cowok pasangan yang beda agama dengan maksud megajak ke dalam islam.
2.kita niati pacaran itu juga untuk serius bwat mnuju jenjang pernikahan apabila nantinya kita ccok, terutama apabila pasagan kita adalah seorang muallaf yang dilatarbelakangi oleh pacaran yang kita jalani.
3.seain mudhorat, bukankah kita juga di anjurkan memikirkan manfaat. jika dengan pacaran kita bisa mengislamkan seseorang mengapa tidak?
Senin, 28 Desember 2009 06:10 WIB
Selasa, 05 Januari 2010 10:51 WIB
pacaran bukannya nggak tu dlam islam, cuman adanya ta'aruf langsung nikah deh... iyyya khan??
Jum'at, 29 Januari 2010 01:16 WIB
*Anda memang memiliki rencana, hanya rencana.. tapi kita kembali lagi kepada Allah, keimanan tumbuh di dalam hati, di teguhkan dalam komitmen. bukan karena si dia atau si anu.. belum tentu esok hari kita masih hidup ??
percayalah pada qada dan qadar Allah..
*kita mengajak mereka secara ikhlas akhi, bukan karena cinta pada duniawi saja, sekali lagi tanpa paksaan, karena yg saya liat dari teman2 muallaf, mereka mencari sesuatu pegangan (keimanan) benar2 dengan i'tikad yang baik.. maka Allah mempermudah jalan mereka, dan ada pula dengan cobaan yang bertubi2. karena semakin berat cobaan seseorang, semakin tinggi pila tingkat keimanannya ..
afwan jiddan kalo ana ada salah
Jum'at, 29 Januari 2010 07:42 WIB
Rabu, 10 Februari 2010 08:52 WIB
Minggu, 14 Maret 2010 04:02 WIB